Buton

Kecelakaan Laut Nelayan Hilang Ditemukan Meninggal

Kecelakaan laut nelayan hilang ditemukan meninggal – Kecelakaan laut di Tolandona menimbulkan kesedihan mendalam saat nelayan Samunu (65) dari Dusun Nambo, Kelurahan Tolandona Matanaeo, Kecamatan Sangia Wambulu, Kabupaten Buton Tengah, dinyatakan tidak selamat.

Dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) selama dua hari, tim berhasil menemukan korban di pesisir pantai Desa Wara. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sekitar 3,8 mil laut arah barat daya dari Last Known Position (LKP).

Kepala KPP Kendari, Muhamad Arafah menyampaikan melalui Humasnya, Wahyudin, bahwa dua tim SAR gabungan terlibat dalam operasi penyisiran. Tim pertama menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dengan Aquaeye di sekitar LKP seluas 0,12 mil laut².

Baca Juga: Tenggelam di Perairan Butur, Nelayan asal Lagasa Ditemukan Meninggal

Tim kedua menyisir pesisir pantai dari Tolandona hingga Tanjung Kalangkangan menggunakan 6 unit longboat untuk mencari korban dalam area seluas 6,09 NM².

“Operasi SAR dianggap selesai setelah korban ditemukan, dan tim SAR kembali ke unitnya masing-masing,” ungkap Wahyudin melalui keterangan pers pada Rabu (13/12/2023) malam.

Kecelakaan Laut Nelayan Hilang Dua Hari Ditemukan Meninggal: Korban Sempat Memasang Jaring Ikan

Kecelakaan Laut Nelayan Hilang Ditemukan Meninggal
Korban saat dievakuasi oleh tim SAR gabungan.

Wahyudin menjelaskan kronologi kecelakaan laut tersebut. Pada malam 24 November 2023, korban keluar melaut dengan longboat untuk memasang jaring ikan di perairan Tolandona. Pada Pukul 21.00 Wita, longboat korban ditemukan tanpa keberadaan korban oleh nelayan kalialia. Meskipun pencarian sempat dilakukan namun dengan hasil nihil.

“Diduga korban saat itu terjatuh dari perahu miliknya,” urainya.

Pentingnya Memahami Faktor Keselamatan dalam Melaut

Kecelakaan laut nelayan hilang ditemukan meninggal – Menurut Wahyudin, operasi SAR kecelakaan laut melibatkan berbagai unsur dan alat, seperti RIB, longboat, rescue car, alat selam, Aquaeye, dan peralatan pendukung keselamatan lainnya.

Baca Juga: Sempat Hilang, Nelayan Asal Buton Ditemukan Lemas di Karang Tanjung Kapontori

Sementara itu, faktor cuaca, termasuk kondisi berawan, arah angin Timur-Barat laut, tinggi ombak 0,5-1 meter, dan kecepatan angin 0,5-11 knot, mempengaruhi jalannya operasi SAR.

KPP Kendari terus mengajak masyarakat maritim untuk memperhatikan faktor keselamatan dalam setiap kegiatan melaut sebagai langkah pencegahan terhadap kecelakaan serupa di masa mendatang.

“Dengan adanya kejadian ini, kita diingatkan akan urgensi keselamatan saat berlayar, terutama mengingat fluktuasi cuaca yang tidak terduga. KPP Kendari mengimbau seluruh komunitas maritim untuk senantiasa memprioritaskan aspek keselamatan dalam setiap aktivitas pelayaran,” himbau Wahyudin.

Laporan: Arto Rasyid
Editor: Gugus Suryaman

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button